Di Tengah Banjir Informasi, Gubernur Sulut Serukan Literasi Digital dan Kewaspadaan Publik

Boltim,Faktasulawesi.com — 19 April 2026 Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling, menyoroti meningkatnya risiko penyebaran informasi menyesatkan di era digital yang kian masif.

Ia menilai, kemajuan teknologi yang semestinya menjadi jembatan pengetahuan, kini juga membuka ruang lebar bagi beredarnya hoaks dan disinformasi yang sulit dibedakan dari fakta.

Dalam sejumlah kesempatan, gubernur yang akrab disapa YSK itu mengingatkan masyarakat agar tidak serta – merta mempercayai setiap informasi yang diterima, khususnya dari media sosial. Menurutnya, kemampuan menyaring informasi telah menjadi kebutuhan mendasar dalam kehidupan modern.

“Setiap informasi harus disaring dengan baik sebelum dipercaya atau disebarluaskan,” tegasnya.

Fenomena ini dinilai semakin kompleks seiring peran media sosial sebagai sumber utama informasi publik. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menjangkau ribuan hingga jutaan orang tanpa melalui proses verifikasi yang memadai.

Kondisi tersebut berpotensi memicu kesalahpahaman, bahkan konflik sosial, jika masyarakat tidak memiliki kecakapan dalam memilah informasi.

Sejalan dengan itu, Ketua DPC Partai Gerindra Bolaang Mongondow Timur, Nariman Bazmul, turut mengajak masyarakat khususnya masyarakat Boltim, untuk lebih kritis dan tidak mudah terprovokasi. Ia menekankan pentingnya peran aktif publik dalam menjaga ruang informasi tetap sehat.

“Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penerima pasif. Sikap kritis dan kehati – hatian adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Ia juga menggaungkan pesan sederhana namun kuat, “Saring sebelum sharing.”

Imbauan tersebut tidak sekadar menjadi seruan normatif, melainkan bagian dari upaya membangun budaya literasi digital yang kuat di tengah masyarakat.

Di era informasi saat ini, kecerdasan tidak lagi diukur dari banyaknya informasi yang dikonsumsi, tetapi dari kemampuan memahami, menguji dan memanfaatkannya secara bijak.

Para pemangku kepentingan menilai, satu informasi keliru dapat memicu keresahan luas. Sebaliknya, satu sikap bijak dari masyarakat mampu menjadi benteng yang melindungi banyak pihak dari dampak negatif disinformasi.

Di tengah derasnya arus digital, pesan dari pemerintah daerah dan tokoh masyarakat menjadi penanda penting bahwa masa depan yang sehat tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat dalam mengelola informasi secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, di dunia yang dipenuhi arus informasi tanpa batas ini, kebijaksanaan menjadi pertahanan utama dalam menjaga stabilitas sosial dan keharmonisan publik.

( Saiful Boroma)